Cerita Bintang, Jalan Kaki Keliling Indonesia
Untuk Kampanye Lingkungan

(lainsisi.com)-- "Sebuah mimpi harus diwujudkan, mumpung masih mampu dan ada kesempatan, jangan sampai nanti menyesal," begitu ujar Irfan Apendi atau sering disapa Bintang. Pemuda kelahiran Somolangun Jambi, Sumatera 11 Juli 1996 ini punya mimpi untuk berjalan kaki keliling Indonesia.
Tak sekedar berpetualang, perjalanan ini sekaligus sambil membawa misi kampanye lingkungan dan menanam pohon. Dan saat singgah di Yogyakarta, ia sudah memasuki propinsi ke 15. Dalam mewujudkan mimpinya, Bintang sudah melampaui hampir separo Indonesia setelah tiga tahun perjalanan.
Start dari Pekanbaru, sejak 28 Desember 2020 yang lalu, Bintang mulai mengembara berjalan kaki keliling Indonesia. Dari ujung utara Pulau Sumatra, ia mengambil rute ke selatan dengan menyinggahi beberapa kota, seperti Aceh, Medan, Kepulauan Riau, Padang, Bengkulu, Lampung. Kemudian ia menyeberang ke Jawa.
Setelah singgah di Ibu Kota, Bintang melanjutkan perjalanan ke arah timur dengan menyisir jalur selatan. Kota kota seperti Bandung, Banten, Tasikmalaya, Cilacap, Purwokerto dan lainnya telah ia singgahi, hingga beberapa waktu lalu, Ia sampai ke Yogyakarta.
Di Yogyakarta, Bintang akhirnya bisa terkoneksi dengan Komunitas Resan Gunungkidul. Menjelang akhir tahun 2023 kemarin, Bintang singgah dan menginap di rumah Sidik Asyianta, salah seorang pegiat Resan Gunungkidul di Kalurahan Kepek, Kapanewon Saptosari, Gunungkidul. Ia juga sempat menanam pohon di Telaga Winong di tempat singgahnya kali ini.
"Tak sekedar berpetualang, saya memang membawa misi pelestarian lingkungan dengan tajuk 'Seribu Pohon Untuk Nusantara.' Pada setiap tempat yang saya singgahi, saya menyempatkan diri untuk menanam pohon berkolaborasi bersama komunitas tempat dimana saya singgah," begitu kata Bintang saat ditemui sehabis menanam pohon di Telaga Winong.

Ia kemudian banyak bercerita tentang awal mula memutuskan untuk melakukan perjalanan ini. Berawal dari keprihatinannya terhadap kerusakan lingkungan tempat ia tinggal di Somolangun, Jambi.
"Tempatku itu dulunya asri, bagus, nyaman, adem ayem, tapi sekarang hutan banyak yang dibabati, cuaca jadi panas, kalau hujan banjir, longsor dan banyak bencana," kata Bintang mengawali ceritanya.
Prihatin dengan hal itu, Bintang kemudian mendirikan komunitas pecinta alam dan mulai kampanye tentang merawat lingkungan. Namun, ia mengaku, jaman yang sudah berubah saat ini memang tidak mudah untuk melakukan sesuatu yang beda dengan yang lain. Apalagi, nilai nominal kapital sekarang menjadi tolok ukur dalam penghargaan manusia terhadap alam.
Begitu berat tantangan yang harus dihadapi, Bintang tak patah arang. Ia kemudian bertekad untuk membangun kapasitas dan membekali diri, serta meluaskan jaringan dengan orang atau komunitas lain yang mempunyai tujuan serupa, yakni merawat dan menjaga alam di seluruh Indonesia.
"Saat itu, saya memutuskan untuk memulai perjalanan keliling Indonesia. Tujuan saya, selain mengkampanyekan pentingnya merawat alam, saya ingin memperbanyak teman dan jaringan serta belajar segala hal yang nantinya dapat saya gunakan untuk gerakan yang bermanfaat di daerah saya," tekadnya.
Dengan restu dari keluarganya yang sama sama mempunyai basic pecinta alam, Bintang semakin yakin dengan apa yang akan ia lakukan. Ia berpegang pada pesan orang tuanya untuk optimis mewujudkan mimpinya, asal itu masih dalam batasan positif dan nantinya akan bermanfaat untuk masa depannya.
"Ini inisiatif saya sendiri, tidak ada program, penugasan atau biaya dari pihak tertentu," lanjutnya lagi.
Banyak kisah yang kemudian ia ceritakan dalam tiga tahun perjalanannya. Suka duka hidup di jalanan adalah resiko yang harus ia hadapi. Disangka penjahat, teroris, sampai dipalak atau dijambret pernah ia alami. Kalau terpaksa tidak ada kontak untuk singgah bermalam, dan kemalaman, Bintang biasa tidur di masjid, POM, teras rumah warga atau di tenda.
"Kaya keong bawa rumah," ucapnya sambil tertawa.
Saat benar-benar kehabisan bekal, Bintang mengaku harus bagaimana caranya untuk bertahan hidup. Ya kerja serabutan, membantu berjualan sate, empek-empek atau apa saja yang penting halal.
"Ada sedikit uang saya belikan beras, untuk lauknya biasanya bisa beli sayur mateng. Uang 5 ribu bisa buat makan dua hari," cerita Bintang soal bagaimana ia makan sehari-hari.
Bintang mengaku memang tak ada target berapa tahun perjalanannya selesai. Dalam kurun waktu hampir tiga tahun ini, ia sudah mulai menikmati suka duka hidup di jalanan. Begitu banyak hal-hal baru yang ia temui dan pelajari dari orang-orang atau komunitas yang ia temui selama perjalanan.
"Tak ada target waktu, sekuatnya, semampunya, sesampainya. Jadi memang waktunya terhitung lama, tak bisa saya paksakan, saya menikmati perjalanan ini," lanjutnya.
Kangen keluarga yang ada di Jambi menurutnya adalah hal yang berat, namun hal itu bisa ia atasi dengan selalu berkabar lewat telepon. Bintang bercerita bahwa di rumah ia mempunyai tiga adik yang tiap hari menelpon untuk bertanya kabar dan bercerita.
"Ya jelas kangen sama keluarga, orang tua, adik-adik, tiap hari kami selalu saling berkabar. Kalau minta kiriman uang ke orang tua, saya tidak pernah, bagaimanapun saya tidak mau merepotkan, saya harus berupaya untuk mandiri," katanya.
Dalam melakukan perjalanan ini, Bintang mengaku tidak melulu jalan kaki. Di jalan, ada saja orang yang baik hati memberikan tumpangan, entah itu mobil atau kendaraan roda dua. Ia juga membatasi dalam perjalanan malam, jika sudah lepas Maghrib maka ia harus berhenti untuk beristirahat untuk mengindari resiko.
"Pernah di daerah Sumatera saya harus melewati rute jalan hutan sejauh kira kira 60 km. Padahal rute itu terkenal sebagai daerah rawan begal dan teroris, akhirnya saya dicarikan mobil tumpangan milik tentara, jadi aman,".
Saat ditanya pengalaman paling berkesan menurutnya adalah sambutan yang luar biasa dari tempat-tempat yang ia singgahi.
"Begitu banyak orang-orang baik yang saya temui, saat saya singgah mereka menjamu saya dan membantu menghubungkan koneksi pada rute berikutnya. Sungguh saya menemukan banyak saudara dimanapun saya singgah," ucapnya.
Rute yang akan ditempuh Bintang, dari Pulau Jawa ia akan terus ke timur, Bali, Lombok, hingga sampai ke Papua, Kemudian akan ke Sulawesi dan rencana akan finish di Kalimantan.
"Kalau memungkinkan saya akan finish di IKN," harapnya.
Setelah dari Komunitas Resan Gunungkidul, Bintang kemudian sempat singgah di tempat Kang Kardi, Komunitas Sedulur Tandur Wonogiri. Dari sini, ia kemudian meneruskan perjalanan ke Jawa Timur, dimana Aliansi Relawan Lingkungan Jawa Timur, Dr. Ari Purnomo Adi siap menyambutnya dengan berbagai kegiatan kampanye lingkungan.
"Perjalanan ini bukan sekedar buat saya sendiri. Semoga upaya ini bisa ikut memberi andil sebagai upaya bersama dalam kampanye lingkungan. Kita harus menyadari bahwa alam bisa hidup dan berkembang tanpa manusia, tapi kita tak bisa hidup tanpa alam," begitu pesan Bintang saat ia berpamitan meneruskan perjalanannya.
