Memaknai Kosong, Dari Ungkapan Rasa Visual Seni Rupa
Art Exhibition Babadseni#7 Ikatan Perupa Gunungkidul 2023

"Sejatine kang mangkana wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi. Bali alaming nga-suwung, tan karem karameyan. Ingkang sipat wisesa winisesa wus, mulih mula mulanira" (Sebenarnya yang demikian itu sudah mendapat anugerah Tuhan. Kembali ke alam kosong. Tidak mabuk keduniawian yang bersifat kuasa menguasai. Kembali ke asal mula)*
---Serat Wedhatama, Pupuh Pangkur Bait 14--
Tulisan ini tertera di banner pameran seni rupa, Ikatan Perupa Gunungkidul babadseni#7 tahun 2023. Pameran digelar selama satu minggu, 23 Desember 2023, sampai 1 Januari 2024, bertempat di Dinihari Kafe, Tawarsari, Baleharjo, Wonosari, Gunungkidul. Momen pergantian tahun sengaja diambil oleh teman-teman perupa sebagai titik awal, semangat baru dalam eksistensi kekaryaan.
'Kosong' adalah tema pameran yang coba dieksplorasi oleh teman teman IPG. Dari proses yang telah dijalani setelah lebih dari satu dekade (IPG terbentuk 2011), teman-teman perupa Gunungkidul mencoba membaca kembali perjalanan kesenirupaan mereka baik secara personal maupun komunitas.
Sejarah mencatat, IPG adalah salah satu tonggak kebangkitan seni rupa di Gunungkidul. Proses dan keberadaannya menjadi saksi perubahan dan hiruk pikuk jaman yang begitu cepat di Bumi Handayani. Sebagai komunitas yang membawa nama daerah, IPG memang lekat dengan 'rasa pangrasa wong Gunungkidul'.
"Event ini adalah ajang reuni setelah kami vakum agak lama," begitu kata Herlan Susanto Sae, ketua Ikatan Perupa Gunungkidul.
"Ini juga menjadi ajang kebaruan, kami berharap ada bakat-bakat baru yang muncul dan mau bergabung dalam membangun iklim seni rupa Gunungkidul," ungkap Sulino, ketua panitia babadseni#7 2023.
Terbentuknya IPG memang identik dengan perjalanan seni rupa Gunungkidul. Sebagai daerah yang bisa dikatakan dekat dengan Yogya yang menjadi tolok ukur seni rupa nasional, Gunungkidul memang bisa dikatakan tertinggal.
Namun, 'booming' wisata Gunungkidul dan Keistimewaan Yogyakarta, menjadikan wilayah paling selatan dan terluas di DIY ini mengalami lompatan quantum. Sejak dulu Gunungkidul memang telah terstigma sebagai daerah marginal. Kekeringan, tandus dan miskin, hingga berlabel sebagai wilayah 'adoh ratu cerak watu'. Namun, dalam waktu satu dekade lebih, secara cepat bertransformasi menjadi idola 'hidden gems'. Menjadi destinasi wisata dan investor nomer satu di DIY.
Perubahan jaman akhirnya membawa berbagai dampak baik positif maupun negatif bagi masyarakat Gunungkidul. Budaya, sosial, ekonomi, gaya hidup, aturan para pemangku kebijakan hingga perikehidupan masyarakat secara luas memang harus ikut berdinamika menyesuaikan jaman.
Tema 'kosong' yang diusung pada gelaran Babadseni#7 IPG menggelitik pemikiran teman-teman perupa terkait banyak hal yang berubah begitu cepat di Gunungkidul. Dengan segala keterbatasan, saya mencoba memahami pemaknaan dari tema 'kosong'. Mengacu pada proses laku diri personal sebagai pelaku langsung dalam kontemplasi perjalanan seni rupa Gunungkidul.
'Kosong' adalah perbendaharaan kata Bahasa Indonesia yang lumrah diucapkan dalam penyebutan kalimat sehari-hari. KBBI mendefinisikan kata 'kosong' sebagai ruang yang tidak berisi. Makna lainnya dari kata 'kosong' ini adalah tidak berpenghuni, hampa, tidak mengandung arti, tidak bergairah, tidak ada yang menjabatnya, tidak ada sesuatu yang berharga atau tidak ada muatannya. 'Kosong' bukanlah angka atau numeralia. 'Kosong' merupakan adjektiva atau kata sifat.
Petikan yang saya tulis diatas adalah bait ke 14 Pupuh Pangkur Serat Wedhatama. Sebagai orang Gunungkidul, kiranya menjadi menarik ketika saya mencoba meraba tema kosong dengan pendekatan ilmu 'kejawen'. Dalam konsep teosofi Jawa, ada yang menyebutkan bahwa 'kosong' adalah “suwung/wangwung'. Ini adalah satu kata yang sebetulnya menjadi intisari seluruh ajaran spiritual leluhur Jawa.
Menurut ilmu 'kejawen', 'kosong' yang bermakna “suwung”, ternyata adalah realitas terdalam dari kehidupan. Sebuah keadaan penuh kesadaran pada jiwa manusia sebagai jalan bersatu kembali dengan asal muasalnya. Keadaan 'suwung' menempatkan jiwa manusia berada dalam kondisi sumber penciptaan, tenteram, damai sepenuhnya, melampaui suka-duka serta sunyi dari gejolak emosi dan amarah.
Pengartian 'kosong' versi Bahasa Indonesia, justru terbalik dengan pengertian orang Jawa dalam memahami kata 'suwung'. Pengertian 'kejawen' memaknai 'suwung' tidak hanya sebatas ruang kosong tak berarti. 'Suwung' dipahami sebagai ‘kemahasadaran dan 'kemahakuasaan’ jiwa dalam bentuk kekosongan yang memangku dan meliputi seluruh keberadaan (suwung hamengku ana).
Dalam perjalanan spritual orang Jawa, kata 'suwung' awalnya dimaknai untuk menggambarkan rasa hampa akan kesadaran diri dengan lingkungannya. Rasa hampa ini diartikan dengan kondisi kosong yang tidak mempunyai bentuk dan abstrak.
Setelah melewati fase itu, kedekatan jiwa manusia dengan Sang Pencipta terjadi lebih intens. Bahkan, penganut paham sufi Jawa, memaknai 'suwung' dengan pengartian lebih. Bagi mereka, 'suwung' mengandung makna kekosongan yang bernuansa pengendalian diri yang sempurna dan kesadaran sejati akan diri yang berkaitan dengan ketuhanan.
Pemahaman sufi Jawa meyakini, keadaan jiwa 'suwung' akan membantu diri seseorang mampu membebaskan diri dari ilusi kehidupan yang membuat hidup penuh tekanan. Menyadari dan menempatkan keagungan manusia sebagai makhluk Tuhan dengan segenap potensinya untuk merasakan kebahagiaan. Dan pada akhirnya dapat mentransformasi diri pada tataran energi murni untuk hidup berkelimpahan dalam penyatuan dengan Sang Maha Pencipta.
Dalam ajaran Suluk Suksma Lelana Ki Ronggowarsito, disebutkan bahwa pencapaian 'suwung' ini terjadi pada keadaan 'ma’rifatullah'. Proses terakhir yang dicapai setelah tahapan syariat, tarekat dan hakikat. 'Suwung' sebagai tahapan makrifat, merupakan bentuk capaian tertinggi. Menggambarkan suatu keadaan ketika manusia mengetahui tentang hakikat ketuhanan. Dalam hal ini, manusia dianggap telah mampu mencapai puncak spiritual “Manunggaling kawula Gusti”.
Ketika hendak mencapai 'alam suwung', manusia harus berproses melalui laku perjalanan spritual. 'Ngilmu tekaning kanthi laku' adalah kalimat yang tepat untuk memahami berbagai pengertian luhur 'kejawen'. Kesempurnaan hidup sejati merupakan tujuan utama manusia baik ketika masih di dunia, maupun ketika sudah kembali kepada Sang Pencipta (sangkan paraning dumadi).
Orang Jawa juga sangat mementingkan prinsip keseimbangan. Kebahagiaan hidup sejati di dunia ini bukan hanya diukur dari keadaan terpenuhinya kebutuhan materil secara melimpah. Tetapi konsep bahagia ini berupa pemenuhan kebutuhan yang wajar, adil dan seimbang bagi keperluan jasmani serta rohaninya.
Dalam event pameran BabadSeni#7, teman-teman perupa Gunungkidul mencoba mengejawantahkan hasil kontemplasinya lewat berbagai karya rupa dua dimensi, tiga dimensi hingga perform art. Bagi seorang seniman, perjalanan kekaryaan adalah perjalanan spritual. Kontemplasi panjang dengan segala dinamika untuk mengolah rasa dan karsa sehingga 'mawujud' (mewujud) dalam sebuah karya.
Dengan memahami realitas pada ruang hidup bersama bernama bumi Gunungkidul, para personal IPG berusaha menarik itu dalam bentuk immaterial. Melakukan perenungan yang transenden, melintasi batas-batas dimensi yang bersifat fisik, ruang dan waktu yang terbatas. Kemudian melahirkannya dalam berbagai karya rupa dan dipersembahkan ke publik dalam agenda BabadSeni#7.
IPG juga mengajak khalayak untuk merenungkan segala hal dalam menanggapi keadaan jaman. Realitas keadaan Gunungkidul yang begitu elok saat ini, ternyata menyimpan banyak ironi. Keadaan yang mengisyaratkan kita untuk tidak 'milik gendong lali', lupa dan terbawa arus besar bernama modernitas sehingga melupakan identitas. Memaknai 'kosong', 'suwung' sejatinya memaknai arti kehidupan.
