Tradisi Nyadran Blarangan, Cerita Pertempuran Pelarian Majapahit

Edi Padmo
0



Upacara Adat (lainsisi.com)-- Masyarakat Padukuhan Blarangan, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Ponjong, Gunungkidul, hari ini Senin 26 Februari 20204 menggelar upacara adat Nyadran Blarangan.

Upacara dilakukan di lokasi makam  Raden Mas Djoyo Dikromo Sesuco Ludiro di wilayah padukuhan setempat. Bertepatan dengan tanggal 15 Bulan Ruwah pada sistem kalender penanggalan Jawa

Lurah Sidorejo, Kapanewon Ponjong, Sidiq Nur Safii mengatakan, Upacara Nyadran Blarangan merupakan bentuk rasa syukur kepada Yang Maha Pencipta, sekaligus untuk mendoakan arwah para leluhur yang dulu telah berjuang  untuk memakmurkan wilayah desa

"Nyadran Blarangan juga sebagai bentuk mengingat dan  menghormati  'cikal bakal' tokoh asal muasal Padukuhan Blarangan," kata Sidiq

Menurut cerita tutur yang dipercaya oleh masyarakat, konon dahulu ada dua punggawa Kerajaan Majapahit yang lari dari kerajaan. Keduanya bernama Tumenggung Wayang dan Tumenggung Sesuco Ludiro yang melarikan diri ke arah barat

Rupanya, pelarian kedua tokoh ini terus dibayangi  oleh para prajurit kerajaan yang mengejarnya. Saat sampai wilayah Gunungkidul akhirnya mereka tersusul. Oleh prajurit kerajaan, kedua tokoh dan pengikutnya dipaksa untuk kembali. Namun karena menolak, akhirnya  keduanya dikepung atau 'dikalang'. 

"Tempat dimana dua tokoh yang terkepung (kalang) ini akhirnya  jadilah nama Padukuhan Kalangan di Kecamatan Karangmojo," kata Lurah

Karena tidak mau kembali ke kerajaan Majapahit, maka akhirnya terjadilah pertempuran sengit antara prajurit kerajaan melawan Ki Wayang serta Ki Sesuco beserta pengikutnya. Konon cerita,  Ki Wayang adalah seorang  tokoh yang sakti mandraguna pilih tanding. Saat itu, ia begitu sulit untuk ditaklukan. Pada akhirnya tiga bagian tubuhnya dipisah dan akhirnya membuat dia terbunuh

Sengitnya pertempuran yang memakan banyak korban, akhirnya menyebabkan pertumpahan darah dari kedua pihak. 

"Wilayah yang menjadi lokasi pertempuran  itu kemudian disebut Blarangan, dari kata 'mblarah getih' (pertumpahan darah," lanjutnya

Setelah Ki Wayang wafat, Ki Sesuco Ludiro yang masih bertahan hidup akhirnya berdamai. Ia kemudian tinggal di tempat tersebut dan  mengajarkan 'olah tetanen', mengolah lahan dan bercocok tanam kepada warga setempat.

"Lambat laun, dengan keahlian ilmu pertanian yang beliau miliki, menjadikan daerah Blarangan subur makmur. Setelah sekian lama, Ki Sesuco akhirnya wafat dan dikebumikan di Padukuhan Blarangan," imbuh Lurah

Untuk mengenang cerita perjuangan dua tokoh cikal bakal Blarangan, maka setiap satu tahun sekali, yakni di tanggal 15 Bulan Ruwah, masyarakat Blarangan kemudian menggelar upacara adat Nyadran Blarangan.

Warga membawa makanan berupa ayam ingkung, nasi uduk dan 'uba rampe' yang lain. Cerita warga, di tahun 2018 sebelum Pandemi melanda, pernah tercatat ada hampir 1300 ingkung ayam yang dibawa oleh peserta Nyadran

Semua 'ubarampe' yang dibawa kemudian dikumpulkan. Dan setelah semua prosesi selesai dan didoakan, makanan kemudian dibagi-bagikan kepada siapa saja yang hadir mengikuti upacara adat Nyadran Blarangan

"Kegiatan ini di gelar dengan pembiayaan dari Dana Desa Tahun 2024 dan swadaya gotong royong semua warga," kata Suprapri, Ketua Panitia

"Tradisi yang berumur ratusan tahun namun masih dilestarikan. Ini dapat menumbuhkan kerukunan dan rasa kebersamaan seluruh warga" kata Bupati Gunungkidul, Sunaryanta yang ikut hadir dalam acara

Bupati mengatakan bahwa di Gunungkidul, banyak sekali adat dan tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat. Ini adalah potensi potensi masyarakat yang harus terus dirawat dan dijaga kelestariannya

"Saya kagum dengan semangat masyarakat di kalurahan ini. Kearifan lokal yang masih dijaga.  didalamnya tertanam nilai kebersamaan dan gotong royong," ucapnya

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Ok, Go it!